Kumpulan Artikel Sejarah dan Tempat Wisata di Indonesia dan Dunia

Perlawanan Rakyat Banten Terhadap Belanda VOC

Perlawanan Rakyat Banten Terhadap VOC (Belanda)
"Sejarah Perlawanan Rakyat Banten Terhadap Belanda (VOC)" merupakan salah satu perang fenomenal yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini, sub tema meliputi latar belakang, tujuan, jalannya perlawanan, strategi, tokoh, akhir, dampak positif dan negatif. Sedikit pendahuluan, Banten adalah sebuah Provinsi yang lokasinya paling barat di Pulau Jawa. Sebelum berdiri menjadi Provinsi sejak tahun 2000, wilayah Banten merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat.

Perlawanan Rakyat Banten Terhadap VOC

Lokasi Banten bisa dibilang sangat strategis, yakni sebagai bandar perdagangan dan perniagaan internasional di asia. Adanya pelabuhan dan tata administrasi pemerintahan yang modern membuat perkembangan ekonomi rakyat Banten sangat cepat. Sebelum datangnya Belanda, orang-orang Portugis dan Inggris telah masuk ke daerah ini terlebih dahulu.

Persaingan antara pedagang Eropa akhirnya dimenangkan oleh Belanda, orang portugis melarikan diri setelah kalah perang dengan Belanda pada tahun 1601. Sementara itu, Inggris keluar dari wilayah Banten pada tahun 1684. Kemudian Belanda melalui kongsi dagangnya bernama VOC berusaha menguasai daerah Banten, sehingga memicu terjadinya konflik bersejarah yang sekarang kita kenal dengan "Sejarah Perlawanan Rakyat Banten terhadap VOC Belanda).

Latar Belakang Perlawanan Banten Terhadap VOC

Banten sebagai kesultanan mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1650-1682).  Latar belakang terjadinya perlawanan rakyat Banten terhadap Belanda disebabkan karena VOC berusaha memonopoli perdagangan dan menghalang-halangi perdagangan di Banten. Saat Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa perlawanan Banten terhadap VOC dimulai, ditandai dengan ditolaknya segala aturan dan kebijakan yang dikeluarkan oleh VOC, ia pun berusaha mengusir VOC dari Batavia. 

Usaha VOC menguasai wilayah Banten ternyata tidak pernah berhasil dilakukan, sehingga Belanda terpaksa membuat Bandar di Batavia pada tahun 1619. Pembangunan pelabuhan dagang ini mengakibatkan persaingan antara Banten dan Batavia (Belanda) sebagai bandar utama perdagangan internasional di Asia semakin memanas.

Pada masa kejayaan, perkembangan Banten dengan segala usaha yang dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa untuk memulihkan perdagangan ternyata tidak disenangi oleh VOC. Usaha VOC untuk melemahkan peran Banten sebagai bandar perdagangan dilakukan dengan licik, yaitu melakukan blokade kapal-kapal dagang dari Maluku yang akan menuju Banten.

Jalannya Perlawanan Banten Terhadap VOC dan Strateginya 

Jalannya Perlawanan Banten terhadap VOC dimulai ketika melakukan perusakan terhadap kebun-kepun milik VOC, salah satu sasarannya yakni tanaman tebu. Akibat serangan yang dilakukan tersebut, VOC kemudian memperkuat pertahanan kota Batavia dengan mendirikan benteng, salah satunya bernama Noordjwijk. Sultan Ageng Tirtayasa juga memperkuat pertahanan Banten dengan membuat saluran irigasi yang membentang dari Sungai Pontang sampai Sungai Untung Jawa.

Pembuatan saluran irigasi ini bertujuan untuk memudahkan transportasi perang dan kepentingan irigasi pertanian. Gangguan dan serangan terhadap VOC terus dilakukan, salah satu caranya dengan mengobarkan semangat anti VOC.  Pada tahun 1671 Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat putra mahkota Abdulnazar Abdulkahar sebagai raja pembantu yang lebih dikenal dengan nama Sultan Haji. 

Sebagai raja pembantu Sultan Haji bertanggung jawab urusan dalam negeri, dan Sultan Ageng Tirtayasa bertanggung jawab urusan luar negeri dibantu puteranya yang lain, yakni Pangeran Arya Purbaya. Pemisahan urusan pemerintahan di Banten ini tercium oleh perwakilan VOC di Banten W. Caeff. Ia kemudian mendekati dan menghasut Sultan Haji agar urusan pemerintahan di Banten tidak dipisah-pisah dan jangan sampai kekuasaan jatuh ke tangan Arya Purbaya. Karena hasutan VOC ini Sultan Haji mencurigai ayah dan saudaranya. 

Sultan Haji juga sangat khawatir, apabila dirinya tidak segera dinobatkan sebagai sultan, sangat mungkin jabatan sultan itu akan diberikan kepada Pangeran Arya Purbaya. Tanpa berpikir panjang Sultan Haji segera membuat persekongkolan dengan VOC untuk merebut tahta kesultanan Banten. Timbullah pertentangan yang begitu tajam antara Sultan Haji dengan Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam persekongkolan tersebut VOC sanggup membantu Sultan Haji untuk merebut Kesultanan Banten tetapi dengan empat syarat.
  1. Banten harus menyerahkan Cirebon kepada VOC.
  2. Monopoli lada di Banten dipegang oleh VOC dan harus menyingkirkan para pedagang Persia, India, dan Cina.
  3. Banten harus membayar 600.000 ringgit apabila ingkar janji.
  4. Pasukan Banten yang menguasai daerah pantai dan pedalaman Priangan segera ditarik kembali.
Isi perjanjian ini disetujui oleh Sultan Haji. Pada tahun 1681 VOC atas nama Sultan Haji berhasil merebut Kesultanan Banten. Istana Surosowan berhasil dikuasai. Sultan Haji menjadi Sultan Banten yang berkedudukan di istana Surosowan. Sultan Ageng kemudian membangun istana  yang baru berpusat di Tirtayasa.

Akhir Perlawanan Banten Terhadap VOC

Sultan Ageng Tirtayasa berusaha merebut kembali Kesultanan Banten dari Sultan Haji yang didukung VOC. Pada tahun 1682 pasukan Sultan Ageng Tirtayasa berhasil mengepung istana Surosowan. Sultan Haji terdesak dan segera meminta bantuan tentara VOC. Datanglah bantuan tentara VOC di bawah pimpinan  Francois Tack.

Pasukan Sultan Ageng Tirtayasa dapat dipukul mundur dan terdesak hingga ke Benteng Tirtayasa. Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya meloloskan diri bersama puteranya, pangeran Purbaya ke hutan Lebak. Mereka masih melancarkan serangan sekalipun dengan bergerilya. Tentara VOC terus memburu. Sultan Ageng Tirtayasa beserta pengikutnya yang kemudian bergerak ke arah Bogor.

Baru setelah melalui tipu muslihat pada tahun 1683 Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditangkap dan ditawan di Batavia sampai meninggalnya pada tahun 1692. Namun harus diingat bahwa semangat juang Sultan Ageng Tirtayasa beserta pengikutnya tidak pernah padam. Ia telah mengajarkan untuk selalu menjaga kedaulatan negara dan mempertahankan tanah air dari dominasi asing. Hal ini terbukti setelah Sultan Ageng Tirtayasa meninggal, perlawanan rakyat Banten terhadap VOC terus berlangsung.

Misalnya pada tahun 1750 timbul perlawanan yang dipimpin oleh Ki Tapa dan Ratu Bagus. Perlawanan ini ternyata sangat kuat sehingga VOC kewalahan menghadapi serangan itu. Dengan susah payah akhirnya perlawanan yang dipimpin Ki Tapa dan Ratu Bagus ini dapat dipadamkan.

Tokoh Tokoh Perlawanan Banten

Tokoh-tokoh yang terkenal dalam perlawanan Banten meliputi : Sultan Ageng Tirtayasa, Ki Tapa, Sultah Haji, dan Arya Purbaya.

Tujuan Perlawanan Banten

Tujuan perlawanan rakyat Banten terhadap VOC adalah untuk membalas hal-hal licik yang dilakukan Belanda, seperti memblokade kapal-kapal dari Maluku yang akan menuju bandar perdagangan internasional di Banten. Tujuan lain yaitu memulihkan perdagangan dan mengusir VOC dari Batavia.

Dampak Perlawanan Banten Terhadap VOC (Belanda)

Dampak positif perlawanan rakyat Banten terhadap VOC (Belanda) yaitu membuat semangat juang untuk mengusir bangsa asing yang menduduki wilayah Nusantara menjadi meningkat. Selain itu, perlawanan juga mempengaruhi bandar perdagangan internasional di Banten sehingga bisa menjadi ramai kembali walau hanya sebentar.

Dampak Negatif perlawanan rakyat Banten yaitu wilayah Banten dapat dikuasai sepenuhnya oleh VOC (kongsi dagang Belanda), sehingga monopoli dan kebijakan yang ditentukan harus dipatuhi. Dampak negatif lain, kedudukan VOC di Nusantara menjadi lebih luas.

Share ke teman kamu:

Related : Perlawanan Rakyat Banten Terhadap Belanda VOC