"Jas Merah" Jangan sekali-kali melupakan sejarah !

Wednesday, May 24, 2017

Sejarah Perang Diponegoro Lengkap Latar Belakang, Kronologi dan Dampaknya

Sejarah Perang Diponegoro atau bisa disebut juga Perang Jawa merupakan perang besar yang pernah terjadi di Nusantara antara penjajah Belanda dan pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Belanda menyebut perang ini sebagai Perang Jawa karena terjadi di Tanah Jawa, khususnya Yogyakarta. Sedangkan, di Indonesia kita lebih akrab dengan sebutan Perang Diponegoro, karena Diponegoro merupakan tokoh sentral dalam perang ini.

Perang Diponegoro yang terjadi selama lima tahun (1825-1830) telah menelan korban tewas di pihak tentara Belanda sebanyak 15.000 orang (8.000 orang tentara Eropa dan 7.000 orang pribumi), sedangkan di pihak Diponegoro sedikitnya 200.000 orang tewas. Selain melawan Belanda, perang ini juga merupakan perang (sesama) saudara antara orang-orang keraton yang berpihak pada Diponegoro dan yang anti-Diponegoro (antek Belanda).

Latar Belakang Perang Diponegoro

Pada awalnya, perang ini hanya bersumber dari persoalan internal keraton. Pada Juli 1825, Patih Danu reja IV yang merupakan antek Belanda yang setia, telah memerintahkan para pejabat Kesultanan Yogyakarta untuk membuat jalan. Pembuatan jalan tersebut ternyata menembus tanah milik Diponegoro, yang juga masih kerabat Kesultanan Yogyakarta, dan neneknya di Tegalrejo. Bahkan tanpa sepengetahuannya, pembuatan jalan tersebut sampai menggusur pemakaman milik keluarga Diponegoro. Hal ini jelas mendapatkan perlawanan keras dari Diponegoro.

Untuk itu, pangeran Diponegoro kemudian memerintahkan pegawainya untuk mencabut semua patok yang tertancap sebagai tanda pembuatan jalan oleh Patih Danu reja IV. Tidak hanya itu, Diponegoro juga mengumumkan protes keras dan menuntut supaya Patih Danu reja IV dipecat dari jabatannya. Tetapi, A.H. Smisaerr dan menekan sultan untuk tetap mepertahankan Patih Danu reja IV. Suasana tegang inilah yang menjadi pemicu meletusnya Perang Diponegoro. Sebenarnya, permasalahan ini hanyalah penyulut dari sekian banyak persoalan yang menjadi latar belakang perang Diponegoro.

Sejarah Perang Diponegoro
Sejarah Perang Diponegoro
Menurut Abdul Qadir Djaelani (1999), masalah utama dari Perang Diponegoro adalah karena adanya campur tangan penjajah (Belanda dan Inggris) dalam pemerintahan kesultanan Yogyakarta, yang kemudian tersirat dalam kebijakan dan peraturan kesultanan yang menguntungkan penjajah. Bahkan, sah atau tidaknya kedudukan seorang sultan harus mendapat persetujuan dari penjajah. Kondisi ini diperparah lagi dengan disingkirkannya orang-orang yang tidak mau bekerja sama dengan pihak Belanda. Akibatnya beberapa pangeran yang disingkirkan tersebut, termasuk Diponegoro, kemudian memberontak dan secara terang-terangan melakukan perlawanan, yaitu menentang setiap kebijakan kesultanan dan Belanda.

Kronologi Perang Diponegoro

Pangeran Diponegoro menyusun barisan dengan nama Perlawanan Rakyat terhadap penjajah. Dalam barisan ini, perlawanan difokuskan pada gerakan rakyat agar perjuangannya bersifat meluas dan lama. Bentuk perlawanan ini dipilih Diponegoro untuk menghindari tuduhan Belanda bahwa ia hanya ingin merebut kekuasaan, meski akhirnya tuduhan tersebut tetap dilanyangkan kepadanya.

Dalam perjuangan tersebut, Diponegoro menggunakan langkah jitu. Ia mengeluarkan seruan kepada seluruh rakyat Mataram untuk sama-sama berjuang menentang penguasa kolonial Belanda dan para tiran, yang senantiasa menindas rakyat. Seruan itu, sebagai mana dikutip dari Abdul Qadir Djaelani (1999), antara lain berbunyi, "Saudara-saudara ditanah dataran! Apabila saudara-saudara mencintai saya, datang lah bersama-sama saya dan paman saya ke Selarong. Siapa saja yang mencintai saya, datang lah segera dan bersiap-siap untuk bertempur."

Seruan ini kemudian disebarluaskan di seluruh tanah Mataram, khususnya di Jawa Tengah dan mendapat sambutan hampir sebagian besar lapisan masyarakat. Akhirnya, daerah Selarong penuh sesak karena dipenuhi oleh pasukan rakyat. Perang untuk menentang penguasa kolonial Belanda meledak dan membakar hampir seluruh tanah Mataram, bahkan sampai ke Jawa Timur dan Jawa Barat.

Akhirnya, peperangan pun tidak dapat dihindarkan. Pasukan belanda kewalahan menghadapi pasukan Diponegoro selama bertahun-tahun lamanya. Dalam beberapa pertempuran, pasukan Belanda selalu kalah. Hal ini membuat pasukan Belanda dari Madura dan daerah-daerah lain berdatangan untuk membantu pasukan di Yogyakarta yang sedang terserang. Akibatnya, pasukan Diponegoro banyak yang menderita kekalahan dan gugur di medan perang.

Akhir Perang Diponegoro

Dalam menangani perlawanan Diponegoro tersebut, lagi-lagi Belanda menggunakan siasat yang licik. Diponegoro disergap setelah sebelumnya di iming-iming untuk melakukan perundingan. Pada posisi tidak siap perang, pangeran diponegoro serta pengawalnya dengan mudahnya di sergap, dilucuti dan dimasukan ke dalam kendaraan khusus residen. Kendaraan ini sudah terlebih dahulu disiapkan oleh pihak Belanda. Dengan pengawalan yang ketat, pasukan Belanda kemudian membawa pangeran Diponegoro menuju Ungaran.

Akhir Perang Diponegoro - Diponegoro kemudian akan dibawa ke Batavia, sebelum itu dia dibawa terlebih dahulu ke kota Semarang. Tepat pada tanggal 3 Mei tahun 1830, pangeran Diponegoro dan stafnya dibawa ke daerah pembuangan, yaitu di Manado. Pangeran diponegoro beserta 19 orang termasuk keluarga dan stafnya juga ikut dibuang. Kemudian pada tahun 1834 pangeran Diponegoro dan yang lainnya berpindah ke daerah pembuangan lain, yaitu Makassar. Setelah menjalani masa tawanan selama 25 tahun, Pangeran Diponegoro kemudian meninggal pada tanggal 8 Januari tahun 1855 tepatnya saat berusia 70 tahun.

Demikian pembahasan mengenai Sejarah Perang Diponegoro Lengkap, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Sekian terimakasih
Sumber Referensi : Agus N. Cahyo.  Perang-perang Paling Fenomenal. 2012. Buku Biru. Jogjakarta.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Sejarah Perang Diponegoro Lengkap Latar Belakang, Kronologi dan Dampaknya