Sumber Informasi mengenai Sejarah Indonesia maupun Dunia.

Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Rangkuman Lengkap dan Singkat

Sejarah Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 - Sebagai generasi penerus bangsa, tentunya lucu kalau kita tidak mengetahui sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tanggal 17 Agustus merupakan tanggal yang selalu kita peringati sebagai hari berdiri atau hari kemerdekaan Indonesia. Banyak rintangan yang dilalui oleh para pejuang bangsa untuk kemerdekaan Indonesia. Sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dikumandangkan oleh Ir. Soekarno dan Drs Moh Hatta, banyak peristiwa yang dilalui, diantaranya mengenai persiapan kemerdekaan yang dilakukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), kemudian adanya perbedaan pendapat antara golongan muda dan golongan tua sehingga munculnya peristiwa Rengasdengklok. Sampai kepada perumusan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Simak pembahasan mengenai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia secara lengkap berikut ini. 

Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan Golongan Pemuda

Memuncaknya perjuangan menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia nampaknya disebabkan oleh golongan muda. Baik golongan tua atau golongan muda sama-sama berpendapat bahwa kemerdekaan Indonesia harus segera diproklamasikan, hanya mengenai cara pelaksanaan Proklamasi itu terdapat beberapa perbedaan pendapat. Golongan tua sesuai dengan perhitungan politiknya berpendapat bahwa Indonesia dapat merdeka tanpa pertumpahan darah hanya jika tetap bekerja sama dengan Jepang. Mereka menggantungkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Junbi Iinkai). Persiapan pembentukan badan ini dilaksanakan pada tanggal 7 Agustus 1945, sesuai dengan keputusan Jenderal Besar Terauchi, Panglima Tentara Umum Selatan yang memimpin semua tentara Jepang di Asia Tenggara.

Para anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) itu dijanjikan melakukan kegiatannya menurut pendapat dan kesanggupan bangsa Indonesia sendiri, tetapi mereka diwajibkan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
  1. Syarat pertama untuk mencapai Kemerdekaan Indonesia adalah menyelesaikan perang yang sekarang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia; oleh karena itu bangsa Indonesia harus mengerahkan tenaga sebesar-besarnya dan bersama-sama dengan pemerintah Jepang meneruskan perjuangan untuk memperoleh kemenangan akhir dalam Perang Asia Timur Raya.
  2. Negara Indonesia itu merupakan anggota Lingkungan Kemakmuran Bersama di Asia Timur Raya, maka cita-cita bangsa Indonesia itu harus disesuaikan dengan cita-cita pemerintah Jepang yang bersemangat Hakko-Iciu.

Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Lengkap


Dengan diumumkannya pembentukan PPKI pada tanggal 7 Agustus 1945, maka pada saat yang sama Dokuritsu Junbi Cosakai (BPUPKI) dianggap bubar. Kepada anggota PPKI, Gunseikan Mayor Jenderal Yamamoto mengucapkan terimakasih dan menegaskan kepada mereka bahwa para anggota yang duduk dalam PPKI itu tidak dipilih oleh para pejabat di lingkungan Tentara Keenambelas saja, akan tetapi dipilih oleh Jenderal Besar Terauchi sendiri yang menjadi pengusa perang tertinggi di seluruh Asia Tenggara.

Untuk pengangkatan itu Jenderal Besar Terauchi memanggil tiga tokoh Pergerakan Nasional, terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta dan dr. Radjiman Wediodiningrat. Pada tanggal 9 Agustus 1945 mereka berangkat menuju markas besar Terauchi di Dalat (Vietnam Selatan). Dalam pertemuan di dalat itu pada tanggal 12 Agustus 1945 Jenderal Besar Terauchi menyampaikan kepada ketiga pemimpin tersebut bahwa Pemerintah Kemaharajaan telah memutuskan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Untuk melaksanakannya telah dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan segera setelah persiapannya selesai. Wilayah Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda. Mungkin pelaksanaannya tidak dapat sekaligus untuk seluruh wilayah Indonesia, melainkan bagian demi bagian sesuai kondisi setempat.

Duapuluh satu anggota telah dipilih, tidak hanya terbatas wakil-wakil dari Jawa saja tetapi juga terdapat dari berbagai pulau meliputi : 12 wakil dari Jawa, 3 Wakil dari Sumatera, 2 dari Sulawesi, 1 dari Kalimantan, 1 dari Sunda kecil, 1 dari Maluku, 1 dari penduduk golongan Cina. Yang ditunjuk sebagai ketua PPKI adalah Ir. Soekarno, sedangkan Drs. Moh Hatta ditunjuk sebagai wakil ketua. Sebagai penasehat ditunjuk Mr. Ahmad Subardjo. Kemudian oleh orang Indonesia sendiri anggota PPKI ditambah dengan enam orang tanpa seijin pihak Jepang. Anggota-anggota itu meliputi Wiranantakusumah, Ki Hajar Dewantara, Mr. Kasman Singodimedjo, Sayuti Melik, Iwa Kusumasumantri dan Ahmad Subardjo. 

Pada saat ketiga tokoh PPKI yakni Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta dan dr. Radjiman Wediodiningrat berangkat kembali menuju Jakarta dari Vietnam pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang mengalami pengeboman oleh Serikat atas Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom, sedangkan Uni Soviet menyatakan perang terhadap Jepang setelah melakukan penyerbuan ke Mancuria.

Dengan demikian dapat diduga kekalahan Jepang akan terjadi dalam waktu yang sangat singkat, sehingga Proklamasi Kemerdekaan harus segera dilaksanakan. Dalam hal ini Drs. Moh Hatta berpendapat bahwa "soal kemerdekaan Indonesia datangnya dari pemerintah Jepang atau dari hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri tidak lah menjadi soal karena Jepang toh sudah kalah. Kini kita menghadapi serikat yang berusaha akan mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia. Karena itu untuk memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia diperlukan suatu revolusi yang terorganisir". Kemudian Soekarno dan Hatta ingin memperbincangkan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan di dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, sehingga dengan demikian tidak menyimpang dari ketentuan pemerintah Jepang, yang menetapkan waktu berkumpulnya anggota PPKI yang pertama pada keesokan harinya.

Sikap inilah yang tidak disetujui oleh golongan muda, yang menganggap PPKI adalah badan bikinan Jepang. Mereka juga tidak menyetujui dilaksanakannya Proklamasi Kemerdekaan secara yang telah digariskan oleh Jenderal Besar Terauchi dalam pertemuan di Dalat. Sebaliknya mereka menghendaki terlaksananya Proklamasi Kemerdekaan dengan kekuatan sendiri lepas sama sekali dari Jepang.

Sutan Sjahrir termasuk tokoh pertama yang mendesak diproklamasikannya Kemerdekaan Indonesia oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta tanpa menunggu janji Jepang yang dikataknnya sebagai tipu muslihat belaka. Karena ia mendengarkan radio yang tidak disegel pemerintah Jepang, maka ia mengetahui bahwa Jepang sudah memutuskan untuk menyerah. Desakan tersebut dilaksanakannya pada tanggal 15 Agustus 1945, dalam suatu pertemuan dengan Drs. Moh Hatta begitu Hatta kembali dari Dalat. Tetapi Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta masih ingin mengecheck kebenaran berita tentang kapitulasi Jepang pada pihak resmi dan tetap ingin membicarakan pelaksanaan Proklamasi pada rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Langkah berikutnya yang dilakukan oleh golongan muda adalah terlebih dahulu mengadakan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur (sekarang Fakultas Kesehatan UI) pada tanggal 15 Agustus 1945 pukul 20.30 waktu Jawa jaman Jepang (pukul 20.00 WIB). Keputusan rapat yang dipimpin oleh Chairul Saleh menunjukkan temuan-temuan radikal golongan pemuda yang menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri, tak dapat digantungkan kepada orang lain dan kerajaan lain. Segala ikatan dan janji Jepang harus diputuskan dan sebaliknya diharapkan diadakannya perundingan dengan Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta agar supaya mereka diikutsertakan menyatakan Proklamasi.

Keputusan rapat tersebut disampaikan oleh Wikana dan Darwis pada pukul 22.30 waktu jaman Jepang (pukul 22.00 WIB) di rumah kediaman Ir. Soekarno, Pegangsaan Timur (sekarang jalan Proklamasi) 56, Jakarta, Tuntutan Wikana agar Proklamasi dinyatakan oleh Ir. Soekarno pada keesokan harinya telah menegangkan suasana karena ia juga menyatakan bahwa akan terjadi pertempuran darah jika keinginan mereka tidak dilaksanakan. Mendengar ancaman itu Ir. Soekarno menjadi marah dan melontarkan kata-kata yang berbunyi kurang lebih sebagai berikut "Inilah leherku, saudara boleh membunuh saya sekarang juga. Saya tidak bisa melepaskan tanggungjawab saya sebagai ketua PPKI. Karena itu saya tanyakan kepada wakil-wakil PPKI besok". Ketegangan itu disaksikan oleh tokoh-tokoh nasional angkatan tua lainnya seperti Drs. Moh. Hatta, dr. Buntara dll. Nampaknya perdebatan pendapat antara golongan tua dan muda memuncak, dimana para pemuda tetap mendesak agar besoknya tanggal Agustus 1945 itu juga Proklamasi dilaksanakan, sedangkan pemimpin golongan tua masih menekankan perlunya diadakan rapat PPKI terlebih dahulu.

Peristiwa Rengasdengklok

Adanya perdebatan paham itu telah mendorong golongan pemuda untuk membawa Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta ke luar kota. Tindakan tersebut berdasarkan keputusan rapat terakhir golongan pemuda pada pukul 00.30 waktu jawa jaman Jepang (pukul 24.00 WIB) menjelang tanggal 16 Agustus 1945 di Asrama Bapermi, Cikini, Jakarta. Bersama Chaerul Saleh mereka telah bersepakat untuk melaksanakan keputusan rapat pada waktu itu, yaitu antara lain "menyingkirkan Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta ke luar kota dengan tujuan untuk menjauhkan mereka dari segala Pengaruh Jepang". Guna menghindari kecurigaan dan tindakan Jepang, Shudanco Singgih mendapat kepercayaan untuk melaksanakan rencana tersebut.

Rencana berjalan lancar karena diperolehnya dukungan berupa perlengkapan Tentara Peta dari Cudanco Kasman Singodimedjo yang bertugas di Bandung. Demikianlah pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30 waktu Jawa jaman Jepang (pukul 04.00 WIB) Ir, Soekarno dan Drs. Moh Hatta oleh sekelompok pemuda dibawa ke luar kota menuju Rengasdengklok, sebuah kota kawedenan di sebelah timur Jakarta.

Rengasdengklok dipilih untuk mengamankan Soekarno-Hatta karena perhitungan militer, antara anggota Peta Daidan Purwakarta dan Daidan Jakarta terdapat hubungan erat sejak mereka mengadakan latihan militer secara bersama-sama. Di samping itu Rengasdengklok letaknya terpencil yakni 15 km ke dalam dari Kedunggede, Karawang pada jalan raya Jakarta-Cirebon. Dengan demikian deteksi dapat dengan mudah dilaksanakan terhadap setiap gerakan tentara Jepang yang hendak datang ke Rengasdengklok, baik yang datang dari arah Jakarta, maupun yang datang dari arah Bandung atau Jawa Tengah. Karena pastilah mereka melewati Kedunggede terlebih dahulu dimana pasukan tentara Peta telah bersiap-siap untuk menahannya.

Sehari penuh Soekarno dan Hatta berada di Rengasdengklok, maksud para pemuda untuk menekan mereka berdua supaya segera melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia terlepas dari setiap kaitan dengan dengan Jepang, rupa-rupanya tidak terlaksana. Agaknya kedua pemimpin senior itu mempunyai wibawa yang cukup besar, sehingga para pemuda yang membawanya ke Rengasdengklok segan untuk melakukan penekanan. Namun dalam suatu pembicaraan berdua dengan Soekarno, Shodanco Singgih menganggap Soekarno menyatakan kesediaannya untuk mengadakan Proklamasi itu segera sesudah kembali ke Jakarta. Berdasarkan anggapan itu Singgih pada tengah hari itu kembali ke Jakarta untuk menyampaikan rencana Proklamasi itu kepada kawan-kawannya pemimpin pemuda.

Sementara itu di Jakarta antara Mr. Ahmad Subardjo dari golongan tua dengan Wikana dari golongan muda tercapai kata sepakat bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia harus dilakukan di Jakarta, di mana Laksamana Tadashi Maeda bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama di rumahnya. Berdasarkan kesepakatan itu Jusuf Kunto dari pihak pemuda pada hari itu juga mengantarkan Mr. Ahmad Subardjo bersama sekretaris pribadinya Sudiro ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta. Rombongan itu tiba pada pukul 18.00 waktu Jawa jaman Jepang (pukul 17.30 WIB). Di Rengasdengklok oleh Ahmad Subardjo diberi jaminan dengan taruhan nyawa bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945 keesokan harinya selambat-lambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan tersebut komandan kompi Peta setempat Cudanco Subeno bersedia melepaskan Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta kembali ke Jakarta.

Perumusan Teks Proklamasi

Sesampainya di Jakarta pada pukul 23.30 waktu Jawa jaman Jepang (pukul 23 WIB) rombongan menuju rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1 (sekarang Perpustakaan Nasional), setelah Sukarno dan Hatta singgah di rumah masing-masing terlebih dahulu. Di rumah itulah naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia disusun. 

Sebelumnya Soekarno dan Hatta telah menemui Somubunco, Mayor Jenderal  Nishimura untuk menjajagi sikapnya mengenai Proklamasi Kemerdekaan. Yang menemani meraka adalah Laksamana Maeda bersama Shigetada Nishijima dan Tomegoro Yoshizumi serta Miyosi sebagai penerjemah.

Pada pertemuan tersebut tidak dicapai kata sepakat antara Sukarno-Hatta di satu pihak dengan Nishimura di lain pihak. Di satu pihak Soekarno-Hatta bertekad untuk melangsungkan rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), yang pada pagi hari tanggal 16 Agustus 1945 itu tidak jadi diadakan karena mereka dibawa oleh pemuda ke Rengasdengklok. Mereka menekankan kepada Nishimura bahwa Jenderal Besar Terauchi telah menyerahkan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kepada PPKI. Di lain pihak Nishimura menegaskan garis kebijaksanaan Tentara Keenambelas di Jawa. Yakni dengan menyerahnya jepang kepada Serikat berlaku ketentuan bahwa tentara Jepang tidak diperbolehkan lagi mengubah status quo. Sejak tengah hari sebelumnya tentara Jepang semata-mata merupakan sudah merupakan alat Serikat dan diharuskan tunduk kepada pemerintah Serikat.

Berdasarkan garis kebijaksanaan itu Nishimura melarang Soekarno-Hatta untuk mengadakan rapat PPKI dalam rangka pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Maka sampailah Soekarno-Hatta pada kesimpulan bahwa tidak ada gunanya lagi untuk membicarakan soal kemerdekaan Indonesia dengan pihak Jepang. Hanya mereka mengharapkan pihak Jepang tidak menghalang-halangi pelaksanaan Proklamasi oleh rakyat Indonesia sendiri.

Setelah pertemuan itu Soekarno dan Hatta kembali ke rumah Maeda. Rumah Laksamana Jepang itu dianggap tempat yang aman dari tindakan pemerintah militer yang di Jawa dipegang oleh Angkatan Darat. Kedudukan Maeda sebagai Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut di daerah kekuasaan Angkatan Darat memungkinkan berhubungan dengan Mr. Ahmad Subardjo dan sejumlah pemuda Indonesia yang bekerja pada kantornya. Berdasarkan hubungan baik itu rumah Maeda dijadikan tempat pertemuan antara berbagai golongan Pergerakan Nasional baik golongan tua dan golongan pemuda.

Di ruang makan itu dirumuskanlah naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Maeda sebagai tuan rumah mengundurkan diri ke kamar tidurnya di lantai kedua tatkala peristiwa bersejarah itu berlangsung. Miyoshi sebagai orang kepercayaan Nishimura bersama tiga tokoh pemuda yakni Sukarni, Mbah Diro dan Mr. Subardjo membahas perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sedangkan tokoh-tokoh lainnya, baik dari golongan tua atau muda menunggu di serambi muka. Ir. Soekarnolah yang menuliskan konsep Proklamasi pada secarik kertas, sedangkan Drs. Moh. Hatta dan Mr. Subardjo menyumbangkan pikiran secara lisan. Sebagai hasil pembicaraan mereka bertiga diperoleh lah rumusan tulisan tangan Ir. Soekarno yang berbunyi sebagai berikut :

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-2 jang mengenai pemindahan kekuasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17 - 8 - '05
Wakil-2 bangsa Indonesia


Kalimat pertama merupakan saran dari Mr. Subardjo yang diambil dari rumusan Dokuritsu Junbi Cosakai. Sedangkan kalimat terakhir merupakan sumbangan pikiran Drs. Moh. Hatta. Beliau menganggap kalimat pertama hanyalah merupakan pernyataan dari kemauan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri. Menurut pendapatnya perlu ditambahkan pernyataan mengenai peralihan kekuasaan (transfer of sovereignty). Maka dihasilkan lah rumusan kalimat terakhir dari naskah Proklamasi tersebut. 

Setelah kelompok yang menyendiri di ruangan makan itu selesai dengan merumuskan naskah Proklamasi maka kemudian mereka menuju ke serambi muka untuk menemui hadirin yang telah berkumpul. Waktu saat itu menunjukkan pukul pukul 04.30 waktu Jawa jaman Jepang (pukul 04.00 WIB), Ir. Soekarno mulai membuka pertemuan menjelang subuh itu dengan membacakan rumusan naskah Proklamasi yang masih merupakan konsep. Kepada mereka yang hadir Soekarno menyarakan agar bersama-sama menandatangani naskah Proklamasi selaku wakil-wakil bangsa Indonesia. Saran itu diperkuat oleh Hatta dengan mengambil contoh naskah "Declaration of Independence" Amerika Serikat. Usulan itu ditentang oleh pihak pemuda yang tidak setuju kalau tokoh-tokoh golongan tua yang disebutnya sebagai "budak-budak Jepang" turut menandatangani naskah Proklamasi. Tetapi kemudian salah satu tokoh dari golongan muda yakni sukarni menyarankan agar supaya naskah Proklamasi cukup ditandatangani oleh dua orang saja yakni Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Bukankah mereka berdua yang pada masa itu di mana-mana dikenal sebagai pemimpin utama bangsa Indonesia? Dengan disetujuinya usulan Sukarni itu oleh hadirin, maka Ir Soekarno meminta kepada Sayuti Melik untuk mengetik bersih naskah itu berdasarkan naskah tulisan tangan Soekarno, disertai dengan perubahan-perubahan yang telah disetujui.

Sayuti Melik segera mengetik naskah bersih daripada rumusan Proklamasi. Ada tiga perubahan yang terdapat pada naskah bersih itu, yakni kata "tempoh" diganti menjadi "tempo" sedangkan "wakil-wakil bangsa Indonesia" pada bagian akhir diganti "Atas nama Bangsa Indonesia". Demikian pula terjadi perubahan pada cara menulis tanggal, yaitu "Djakarta, 17-8-05" menjadi "Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen '05". Dengan perubahan tersebut maka naskah yang sudah diketik segera ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta di rumah itu juga. Naskah Proklamasi setelah mengalami perubahan :

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoesaan d.l.l. diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnya.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen '05
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno/Hatta

(tandatangan Soekarno)
(tandatangan Hatta)


Demikian pertemuan yang menghasilkan naskah Proklamasi Kemerdekaan itu berlangsung pada tanggal 17 Agustus 1945 dinihari. Timbullah persoalan bagaimana caranya naskah tersebut disebar luaskan ke seluruh Indonesia. Sukarni melaporkan bahwa Lapangan Ikada telah dipersiapkan bagi berkumpulnya masyarakat Jakarta untuk mendengar pembacaan naskah Proklamasi. Ir Soekarno menganggap Lapangan Ikada adalah salah satu lapangan umum yang bisa menimbulkan bentrokan antara rakyat dengan pihak militer Jepang. Karena itu ia mengusulkan supaya upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilakukan di rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 saja. Usul tersebut disetujui dan pembacaan naskah Proklamasi berlangsung di tempat itu pada hari Jum'at tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.30 waktu Jawa jaman Jepang (pukul 10.00 WIB) di tengah-tengah bulan Puasa.


Demikian pembahasan mengenai sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diulas secara lengkap. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Kurang lebihnya mohon maaf, baca juga artikel lainnya. Sekian terimakasih

Sumber : 
  • Buku " Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI" Edisi 4 Balai Pustaka. Jakarta. 1993 ~ Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto
  • Buku "Seputar Proklamasi Kemerdekaan: Kesaksian, Penyiaran, dan Keterlibatan Jepang" 2015 ~ Hendri F. Isnaeni
Baca juga
   

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Rangkuman Lengkap dan Singkat

.com