Sumber Informasi mengenai Sejarah Indonesia maupun Dunia.

Saturday, June 10, 2017

Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Rangkuman Lengkap dan Singkat

Sejarah Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 - Sebagai generasi penerus bangsa, tentunya lucu kalau kita tidak mengetahui sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tanggal 17 Agustus merupakan tanggal yang selalu kita peringati sebagai hari berdiri atau hari kemerdekaan Indonesia. Banyak rintangan yang dilalui oleh para pejuang bangsa untuk kemerdekaan Indonesia. Sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dikumandangkan oleh Ir. Soekarno dan Drs Moh Hatta, banyak peristiwa yang dilalui, diantaranya mengenai persiapan kemerdekaan yang dilakukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), kemudian adanya perbedaan pendapat antara golongan muda dan golongan tua sehingga munculnya peristiwa Rengasdengklok. Sampai kepada perumusan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Simak pembahasan mengenai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia secara lengkap berikut ini. 

Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)

Memuncaknya perjuangan menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia nampaknya disebabkan oleh golongan muda. Baik golongan tua atau golongan muda sama-sama berpendapat bahwa kemerdekaan Indonesia harus segera diproklamasikan, hanya mengenai cara pelaksanaan Proklamasi itu terdapat beberapa perbedaan pendapat. Golongan tua sesuai dengan perhitungan politiknya berpendapat bahwa Indonesia dapat merdeka tanpa pertumpahan darah hanya jika tetap bekerja sama dengan Jepang. Mereka menggantungkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Junbi Iinkai). Persiapan pembentukan badan ini dilaksanakan pada tanggal 7 Agustus 1945, sesuai dengan keputusan Jenderal Besar Terauchi, Panglima Tentara Umum Selatan yang memimpin semua tentara Jepang di Asia Tenggara.

Para anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) itu dijanjikan melakukan kegiatannya menurut pendapat dan kesanggupan bangsa Indonesia sendiri, tetapi mereka diwajibkan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
  1. Syarat pertama untuk mencapai Kemerdekaan Indonesia adalah menyelesaikan perang yang sekarang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia; oleh karena itu bangsa Indonesia harus mengerahkan tenaga sebesar-besarnya dan bersama-sama dengan pemerintah Jepang meneruskan perjuangan untuk memperoleh kemenangan akhir dalam Perang Asia Timur Raya.
  2. Negara Indonesia itu merupakan anggota Lingkungan Kemakmuran Bersama di Asia Timur Raya, maka cita-cita bangsa Indonesia itu harus disesuaikan dengan cita-cita pemerintah Jepang yang bersemangat Hakko-Iciu.

Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Lengkap
Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Dengan diumumkannya pembentukan PPKI pada tanggal 7 Agustus 1945, maka pada saat yang sama Dokuritsu Junbi Cosakai (BPUPKI) dianggap bubar. Kepada anggota PPKI, Gunseikan Mayor Jenderal Yamamoto mengucapkan terimakasih dan menegaskan kepada mereka bahwa para anggota yang duduk dalam PPKI itu tidak dipilih oleh para pejabat di lingkungan Tentara Keenambelas saja, akan tetapi dipilih oleh Jenderal Besar Terauchi sendiri yang menjadi pengusa perang tertinggi di seluruh Asia Tenggara.

Untuk pengangkatan itu Jenderal Besar Terauchi memanggil tiga tokoh Pergerakan Nasional, terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta dan dr. Radjiman Wediodiningrat. Pada tanggal 9 Agustus 1945 mereka berangkat menuju markas besar Terauchi di Dalat (Vietnam Selatan). Dalam pertemuan di dalat itu pada tanggal 12 Agustus 1945 Jenderal Besar Terauchi menyampaikan kepada ketiga pemimpin tersebut bahwa Pemerintah Kemaharajaan telah memutuskan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Untuk melaksanakannya telah dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan segera setelah persiapannya selesai. Wilayah Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda. Mungkin pelaksanaannya tidak dapat sekaligus untuk seluruh wilayah Indonesia, melainkan bagian demi bagian sesuai kondisi setempat.

Duapuluh satu anggota telah dipilih, tidak hanya terbatas wakil-wakil dari Jawa saja tetapi juga terdapat dari berbagai pulau meliputi : 12 wakil dari Jawa, 3 Wakil dari Sumatera, 2 dari Sulawesi, 1 dari Kalimantan, 1 dari Sunda kecil, 1 dari Maluku, 1 dari penduduk golongan Cina. Yang ditunjuk sebagai ketua PPKI adalah Ir. Soekarno, sedangkan Drs. Moh Hatta ditunjuk sebagai wakil ketua. Sebagai penasehat ditunjuk Mr. Ahmad Subardjo. Kemudian oleh orang Indonesia sendiri anggota PPKI ditambah dengan enam orang tanpa seijin pihak Jepang. Anggota-anggota itu meliputi Wiranantakusumah, Ki Hajar Dewantara, Mr. Kasman Singodimedjo, Sayuti Melik, Iwa Kusumasumantri dan Ahmad Subardjo. 

Pada saat ketiga tokoh PPKI yakni Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta dan dr. Radjiman Wediodiningrat berangkat kembali menuju Jakarta dari Vietnam pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang mengalami pengeboman oleh Serikat atas Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom, sedangkan Uni Soviet menyatakan perang terhadap Jepang setelah melakukan penyerbuan ke Mancuria.

Dengan demikian dapat diduga kekalahan Jepang akan terjadi dalam waktu yang sangat singkat, sehingga Proklamasi Kemerdekaan harus segera dilaksanakan. Dalam hal ini Drs. Moh Hatta berpendapat bahwa "soal kemerdekaan Indonesia datangnya dari pemerintah Jepang atau dari hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri tidak lah menjadi soal karena Jepang toh sudah kalah. Kini kita menghadapi serikat yang berusaha akan mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia. Dari hal tersebut kemudian untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia harus menggunakan cara-cara yang bertahap dan terorganisir. Akan tetapi Ir Soekarno dan Moh. Hatta ingin membicarakan mengenai pelaksanaan proklamasi pada rapat PPKI, sehingga dengan demikian prosesnya tidak menyimpang kepada Jepang, kemudian di tetapkan waktu berkumpulnya anggota PPKI yang pertama pada keesokan harinya.

Baca Juga :


Langkah yang dilakukan oleh golongan tua kemudian tidak disetujui/dikehendaki oleh tokoh golongan muda, yang menganggap PPKI merupakan badan bikinan Jepang. Mereka juga tidak menyetujui dilaksanakannya Proklamasi Kemerdekaan secara yang telah digariskan oleh Jenderal Besar Terauchi dalam pertemuan di Dalat. Sebaliknya mereka (golongan muda) mengharapkan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dengan jerih payah sendiri tanpa bantuan dari pemerintah Jepang.

Sutan Sjahrir termasuk tokoh pertama yang mendesak diproklamasikannya Kemerdekaan Indonesia oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta tanpa menunggu janji Jepang yang dikataknnya sebagai tipu muslihat belaka. Karena ia mendengarkan radio yang tidak disegel pemerintah Jepang, maka ia mengetahui bahwa Jepang sudah memutuskan untuk menyerah. Desakan tersebut dilaksanakannya pada tanggal 15 Agustus 1945, dalam suatu pertemuan dengan Drs. Moh Hatta begitu Hatta kembali dari Dalat. Tetapi Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta masih ingin mengecheck kebenaran berita tentang kapitulasi Jepang pada pihak resmi dan tetap ingin membicarakan pelaksanaan Proklamasi pada rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Langkah berikutnya yang dilakukan oleh golongan muda adalah terlebih dahulu mengadakan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur (sekarang Fakultas Kesehatan UI) pada tanggal 15 Agustus 1945 pukul 20.30 waktu Jawa jaman Jepang (pukul 20.00 WIB). Keputusan rapat yang dipimpin oleh Chairul Saleh menunjukkan temuan-temuan radikal golongan pemuda yang menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri, tak dapat digantungkan kepada orang lain dan kerajaan lain. Segala ikatan dan janji Jepang harus diputuskan dan sebaliknya diharapkan diadakannya perundingan dengan Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta agar supaya mereka diikutsertakan menyatakan Proklamasi.

Keputusan rapat tersebut disampaikan oleh Wikana dan Darwis pada pukul 22.30 waktu jaman Jepang (pukul 22.00 WIB) di rumah kediaman Ir. Soekarno, Pegangsaan Timur (sekarang jalan Proklamasi) 56, Jakarta, Tuntutan Wikana agar Proklamasi dinyatakan oleh Ir. Soekarno pada keesokan harinya telah menegangkan suasana karena ia juga menyatakan bahwa akan terjadi pertempuran darah jika keinginan mereka tidak dilaksanakan. Mendengar ancaman itu Ir. Soekarno menjadi marah dan melontarkan kata-kata yang berbunyi kurang lebih sebagai berikut "Inilah leherku, saudara boleh membunuh saya sekarang juga. Saya tidak bisa melepaskan tanggungjawab saya sebagai ketua PPKI. Karena itu saya tanyakan kepada wakil-wakil PPKI besok". Ketegangan itu disaksikan oleh tokoh-tokoh nasional angkatan tua lainnya seperti Drs. Moh. Hatta, dr. Buntara dll. Nampaknya perdebatan pendapat antara golongan tua dan muda memuncak, dimana para pemuda tetap mendesak agar besoknya tanggal Agustus 1945 itu juga Proklamasi dilaksanakan, sedangkan pemimpin golongan tua masih menekankan perlunya diadakan rapat PPKI terlebih dahulu.

Peristiwa Rengasdengklok

Adanya perdebatan paham itu telah mendorong golongan pemuda untuk membawa Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta ke luar kota. Tindakan tersebut berdasarkan keputusan rapat terakhir golongan pemuda pada pukul 00.30 waktu jawa jaman Jepang (pukul 24.00 WIB) menjelang tanggal 16 Agustus 1945 di Asrama Bapermi, Cikini, Jakarta. Bersama Chaerul Saleh mereka telah bersepakat untuk melaksanakan keputusan rapat pada saat itu, yaitu antara lain "menyingkirkan Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta ke luar kota dengan tujuan untuk menjauhkan mereka dari segala Pengaruh Jepang". Guna menghindari kecurigaan dan tindakan Jepang, Shudanco Singgih mendapat kepercayaan untuk melaksanakan rencana tersebut.

Rencana berjalan lancar karena diperolehnya dukungan berupa perlengkapan Tentara Peta dari Cudanco Kasman Singodimedjo yang bertugas di Bandung. Demikianlah pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30 waktu Jawa jaman Jepang (pukul 04.00 WIB) Ir, Soekarno dan Drs. Moh Hatta kemudian dibawa oleh sekelompok pemuda ke luar kota menuju Rengasdengklok, sebuah kota kawedenan di sebelah timur Jakarta.

Rengasdengklok dipilih sebagai tempat pengamanan Hatta dan Soekarno karena perhitungan militer, antara anggota Peta Daidan Purwakarta dan Daidan Jakarta terdapat hubungan yang baik dan erat setelah melakukan latihan bersama. Faktor lain dipilihnya Rengasdengklok adalah karena posisi/letaknya lumayan terpencil yakni 15 km ke dalam dari Kedunggede pada Jl. raya Jakarta-Cirebon. Dari hal ini pencegahan dan deteksi dapat dengan mudah dilaksanakan kepada setiap pasukan Jepang yang akan datang ke lokasi ini baik dari arah Ibu Kota Jakarta, atau pun dari arah Bandung Jabar atau dari arah Jateng. Karena pasti mereka melewati Kedunggede terlebih dahulu dimana pasukan tentara Peta telah bersiap-siap untuk menahannya.

Seharian penuh Ir Soekarno dan Moh Hatta di asingkan di Rengasdengklok, pengasingan ini dimaksudkan untuk membujuk dan menekan agar mereka segera melakukan tindakan terkait proklamasi kemerdekaan Indonesia tanpa bantuan dari Jepang. Tetapi hal itu tidak membuat kedua tokoh ini berubah pendirian, tokoh golongan muda ini mempunyai wibawa yang begitu besar dan menyebabkan tekanan yang dilakukan terkesan enggan untuk dilakukan. Namun dalam suatu pembicaraan berdua dengan Soekarno, Shodanco Singgih (Golongan Muda) menganggap Soekarno menyatakan kesediaannya untuk mengadakan Proklamasi itu segera sesudah kembali ke Jakarta. Berdasarkan anggapan itu Singgih pada tengah hari itu kembali ke Jakarta untuk menyampaikan rencana Proklamasi itu kepada kawan-kawannya pemimpin pemuda.

Sementara itu, terjadi sebuah kesepakatan antara Golongan Muada dan golongan Muda masing-masing diwakili oleh Ahmad Soebardjo (G.Tua) dan Wikana (G. Muda) tercapai kata sepakat bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia harus dilakukan di Jakarta, di mana Laksamana Maeda menyediakan rumahnya sebagai tempat dilangsungkannya perumusan teks proklamasi. Dari kesepakatan ini kemudian Jusuf Kunto  wakil Golongan Muda mengantarkan Ahmad Soebardjo ke tempat pengasingan di rengasdengklok pada hari itu juga untuk menjemput Ir Soekarno dan Moh Hatta. Ahmad Soebardjo itu tiba pada pukul 18.00 waktu Jawa jaman Jepang (pukul 17.30 WIB). Di Rengasdengklok oleh Ahmad Subardjo diberi jaminan dengan taruhan nyawa bahwa pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia akan segera dilakukan pada tanggal 17 Agustus yakni keesokan harinya. Pelaksanaan paling lambat dilakukan pada pukul 12 siang. Atas jaminan Ahmad Soebardjo komandan kompi PETA Subeno bersedia melepaskan Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta untuk dikembalikan ke Jakarta.

Perumusan Teks Proklamasi

Sesampainya di Jakarta pada pukul 23.30 waktu Jawa jaman Jepang (pukul 23 WIB) rombongan kemudian menuju kediaman Laksamana Maeda di Jl. Imam Bonjol Nomor 1 (sekarang Perpustakaan Nasional), setelah Sukarno dan Hatta singgah di rumah masing-masing terlebih dahulu. Di rumah itulah naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia disusun. 

Sebelumnya Soekarno dan Hatta telah menemui Somubunco, Mayor Jenderal  Nishimura untuk menjajagi sikapnya mengenai Proklamasi Kemerdekaan. Yang menemani meraka adalah Laksamana Maeda bersama Shigetada Nishijima dan Tomegoro Yoshizumi serta Miyosi sebagai penerjemah.

Pada pertemuan tersebut tidak dicapai kata sepakat antara Sukarno-Hatta di satu pihak dengan Nishimura di lain pihak. Di satu pihak Soekarno-Hatta bertekad untuk melangsungkan rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), yang pada pagi hari tanggal 16 Agustus 1945 itu tidak jadi diadakan karena mereka dibawa oleh pemuda ke Rengasdengklok. Mereka menekankan kepada Nishimura bahwa Jenderal Besar Terauchi telah menyerahkan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kepada PPKI. Di lain pihak Nishimura menegaskan garis kebijaksanaan Tentara Keenambelas di Jawa. Yakni dengan menyerahnya pemerintah Jepang kepada Serikat kemudian status daerah jajahannya menjadi "status quo". Sejak tengah hari sebelumnya tentara Jepang semata-mata merupakan sudah merupakan alat Serikat dan harus tunduk terhadap pemerintah Serikat.

Berdasarkan garis kebijaksanaan, Nishimura tetap melarang Ir Soekarno dan Moh Hatta mengadakan rapat pada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengenai persiapan proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Maka kemudian Soekarno dan Hatta menyimpulkan bahwa tidak ada manfaatnya lagi membicarakan kemerdekaan Indonesia dengan pihak pemerintah Jepang. Akan tetapi mereka berharap pemerintah Jepang tidak menghalang-halangi pelaksanaan Proklamasi yang dilakukan ata inisiatif rakyat Indonesia

Setelah melakukan pertemuan dengan Nishimura, Ir Soekarno dan Moh Hatta kemudian kembali kerumah Laksamana Maeda. Rumah Laksamana Jepang itu dianggap tempat yang aman dari tindakan pemerintah militer yang di Jawa dipegang oleh Angkatan Darat. Kedudukan Maeda sebagai Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut di daerah kekuasaan Angkatan Darat memungkinkan berhubungan dengan Mr. Ahmad Subardjo dan sejumlah pemuda Indonesia yang bekerja pada kantornya. Berdasarkan hubungan baik itu rumah Maeda dijadikan tempat pertemuan antara berbagai golongan Pergerakan Nasional baik golongan tua dan golongan pemuda.

Di ruang makan itu dirumuskanlah naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Laksamana Maeda selaku tuan rumah tidak ikut berpartisipasi, beliau kemudian pergi ke tempat tidurnya pada lantai kedua tatkala peristiwa bersejarah dilangsungkan. Tiga tokoh pemuda yakni Sukarni, Mbah Diro dan Mr. Subardjo membahas perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sedangkan tooh lain baik dari golongan muda dan golongan tua menunggu di depan tepatnya di serambi rumah. Ir. Soekarno lah yang menulis konsep Proklamasi Kemerdekaan di secarik kertas di sedangkan Drs. Moh. Hatta dan Mr. Subardjo menyumbangkan pikiran secara lisan. Sebagai hasil pembicaraan mereka bertiga diperoleh lah rumusan tulisan tangan Ir. Soekarno yang berbunyi sebagai berikut :

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-2 jang mengenai pemindahan kekuasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17 - 8 - '05
Wakil-2 bangsa Indonesia


Kalimat pertama merupakan saran dari Mr. Subardjo yang di kutip dari rumusan "Dokuritsu Junbi Kosakai". Kemudian kalimat terakhir merupakan hasil pemikiran dari Drs. Moh. Hatta. Beliau beranggapan bahwa kalimat pertama hanya "pernyataan dari sebuah kemauan" bangsa Indonesia untuk menentukan nasib bangsannya sendiri. Dari hal ini, ia berpendapat perlunya ditambahkan pernyataan terkait peralihan kekuasaan pemerintahan. Maka dihasilkan lah rumusan kalimat terakhir dari naskah Proklamasi tersebut. 

Setelah selesai melakukan perumusan masalah tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia di ruang makan, kelompok ini kemudian menuju ke serambi muka rumah untuk menemui para tokoh golongan tua maupun muda yang hadir dan sedang menunggu. Waktu saat itu menunjukkan pukul pukul 04.00 Soekarno membuka pertemuan saat menjelang subuh ini dengan membacakan hasil rumusan masalah proklamasi yang masih berupa konsep. Soekarno kemudian menyuruh semuannya yang hadir untuk menandatangani konsep proklamasi tersebut atas nama wakil bangsa Indonesia. Saran dari Ir Soekarno diperkuat oleh Moh Hatta dengan mengambil contoh naskah "Declaration of Independence" Amerika Serikat. Usulan dari kedua tokoh itu ditentang oleh Golongan Muda hal ini disebabkan Golongan Tua ikut menandatangani naskah tersebut. Golongan Muda menganggap Golongan Tua hanya sebagai "Budak-budak pemerintah Jepang'. Tetapi kemudian salah satu tokoh dari golongan muda yakni sukarni menyarankan agar supaya naskah Proklamasi cukup ditandatangani oleh 2 orang saja yaitu Ir Soekarno dan Moh Hatta atas nama bangsa Indonesia. Bukankah mereka berdua yang pada masa itu di mana-mana dikenal sebagai pemimpin utama bangsa Indonesia? Dengan disetujuinya usulan Sukarni itu oleh hadirin, maka Ir Soekarno meminta kepada Sayuti Melik untuk mengetik bersih naskah itu berdasarkan naskah tulisan tangan Soekarno, disertai dengan perubahan-perubahan yang telah disetujui.

Sayuti Melik segera mengetik naskah bersih daripada rumusan Proklamasi. Ada tiga perubahan yang terdapat pada naskah bersih itu, yakni kata "tempoh" diganti menjadi "tempo" sedangkan "wakil-wakil bangsa Indonesia" pada bagian akhir diganti "Atas nama Bangsa Indonesia". Demikian pula terjadi perubahan pada cara menulis tanggal, yaitu "Djakarta, 17-8-05" menjadi "Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen '05". Dengan perubahan tersebut maka naskah proklamasi yang telah diketik kemudian segera ditandatangani oelh Ir Soekarno dan Moh Hatta di rumah itu juga. Naskah Proklamasi setelah mengalami perubahan :

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoesaan d.l.l. diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnya.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen '05
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno/Hatta

(tandatangan Soekarno)
(tandatangan Hatta)


Demikian pertemuan yang menghasilkan naskah Proklamasi Kemerdekaan itu berlangsung pada tanggal 17 Agustus 1945 dinihari. Timbullah persoalan bagaimana caranya naskah tersebut disebar luaskan ke seluruh Indonesia. Sukarni melaporkan bahwa Lapangan Ikada telah dipersiapkan bagi berkumpulnya masyarakat Jakarta untuk mendengar pembacaan naskah Proklamasi. Ir Soekarno menganggap Lapangan Ikada merupakan salah satu lapangan umum yang bisa menimbulkan bentrokan antara rakyat dengan pihak militer Jepang. Karena itu ia mengusulkan supaya upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilakukan di rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 saja. Usul tersebut disetujui dan pembacaan naskah Proklamasi berlangsung di tempat itu pada hari Jum'at tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.30 waktu Jawa jaman Jepang (pukul 10.00 WIB) di tengah-tengah bulan Puasa.


Demikian pembahasan mengenai sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diulas secara lengkap. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Kurang lebihnya mohon maaf, baca juga artikel lainnya. Sekian terimakasih

Sumber : 
  • Buku " Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI" Edisi 4 Balai Pustaka. Jakarta. 1993 ~ Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto
  • Buku "Seputar Proklamasi Kemerdekaan: Kesaksian, Penyiaran, dan Keterlibatan Jepang" 2015 ~ Hendri F. Isnaeni
Baca juga

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Rangkuman Lengkap dan Singkat