Sumber Informasi mengenai Sejarah Indonesia maupun Dunia.

Wednesday, June 14, 2017

Sejarah Pertempuran Surabaya 10 November 1945 Lengkap

Pertempuran Surabaya 10 November 1945 - Pertempuran Surabaya merupakan perang antara  pihak Indonesia dan pasukan Sekutu (Inggris) yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini tidak lepas kaitannya dengan persitiwa yang mendahuluinya, yaitu usaha untuk perebutan kekuasaan dan senjata dari tangan Jepang yang dimulai sejak tanggal 2 September 1945. Perebutan kekuasaan dan senjata ini membangkitkan suatu pergolakan, sehingga berubah menjadi situasi revolusi yang konfrontatif. Dalam pembahasan kali ini, Sumber Sejarah akan mengulas mengenai Sejarah Pertempuran Surabaya  secara lengkap dan singkat. Pembahasan meliputi penyebab, kronologi dan akhir dari pertempuran tersebut. Mari kita simak bersama-sama!

Latar Belakang Pertempuran Surabaya

Kronologi awal penyebab pertempuran Surabaya adalah ketika pada 25 Oktober 1945, Brigade 49 dari Divisi 23 Sekutu yang berkekuatan sekitar 5.000 tentara mendarat di Surabaya di bawah pimpinan Brigjen Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Setelah mendarat di Surabaya, kemudian mereka memasuki kota surabaya dan mendirikan pos-pos pertahanan di 8 tempat. Kedatangan mereka awalnya ingin melucuti serdadu Jepang dan menyelamatkan para Interniran serikat. Kedatangan mereka diterima secara enggan oleh pemerintah Jawa Timur. Setelah diadakan pertemuan antara wakil-wakil pemerintah RI dengan Brigjen Mallaby, yang isinya antara lain:
  1. Inggris hanya akan melucuti senjata Jepang saja.
  2. Dibentuk kontak biro agar kerjasama dapat terlaksana.
  3. Kerjasama menjamin keamanan dan ketentraman antara dua belah pihak..
  4. Inggris berjanji bahwa diantara tentara mereka tidak terdapat tentara Belanda.
Sejarah Pertempuran Surabaya 10 november 1945 lengkap
Bung Tomo
Perkembangan kemudian ternyata pihak Inggris mengingkari janjinya. Pada tanggal 26 Oktober 1945 malam hari satu pleton dari pasukan Inggris melakukan penyergapan ke penjara Kalisosok. Mereka akan membebaskan Kolonel Huiyer, seorang kolonel angkatan laut Belanda dan kawan-kawannya. Tindakan Inggris dilanjutkan pada keesokan harinya dengan menduduki Pangkalan Udara Tanjung Perak, Kantor Pos Besar, Gedung Internatio dan obyek lainnya.

Baca juga : Sejarah Karesidenan Surabaya
Baca jugaPeristiwa Bandung Lautan Api

Pada tanggal 27 Oktober pukul 11.00, pesawat terbang Inggris menyebarkan pamflet yang berisi perintah agar rakyat Surabaya dan Jawa Timur menyerahkan senjata-senjata yang dirampas dari Jepang. Pemerintah RI berusaha menanyakan perihal tersebut kepada Mallaby. Mallaby mengaku tidak mengerti pamflet tersebut, namun ia berpendirian bahwa sekali pun sudah  ada perjanjian dengan pemerintah RI, ia akan melakukan tindakan sesuai dengan isi pamflet tersebut. Sikap inilah yang menghilangkan kepercayaan pemerintah RI terhadapnya. Pemerintah memerintahkan kepada para pemuda untuk siaga menghadapi segala kemungkinan. 
Pada pukul 14.00 tanggal 27 Oktober 1945 terjadi kontak senjata yang pertama antara pihak pemuda dan pihak Inggris. Peristiwa meluas menjadi serangan umum terhadap kedudukan Inggris di seluruh kota selama dua hari. Untuk menyelamatkan pasukan Inggris dari kehancuran total, Presiden Soekarno dihubungi oleh Komando Serikat dan pada keesokan harinya mereka berdua tiba di Surabaya. Presiden Soekarno melakukan perundingan dengan Mallaby. Hasil dari perundingan tersebut meliputi :
  1. Pamflet atau surat selebaran yang disebarkan dinyatakan tidak sah.
  2. Untuk sementara waktu Pelabuhan Tanjung Perak dijaga pasukan TKR.
  3. Seluruh Kota Surabaya tidak dijaga oleh pasukan Serikat.
  4. TKR dan Polisi diakui oleh pihak Serikat.
Setelah perundingan tersebut selesai, Soekarno dan perwakilan dari Serikat meninggalkan Kota Surabaya. Walaupun sudah terjadi gencatan senjata, tetapi di beberapa tempat masih terjadi pertempuran. Oleh karena itu, kontak biro dan kedua belah pihak mendatangi tempat-tempat yang masih terjadi pertempuran. pada pertempuran tersebut Mallaby terbunuh ditusuk dengan bayonet dan bambu runcing.

Dengan terbunuhnya Jenderal Mallaby, kemudian pihak inggris menuntut pertanggung jawaban. Pada 31 Oktober 1945 panglima AFNEI Jenderal Christhison memperingatkan kepada rakyat Surabaya agar mereka menyerah apabila tidak akan dilenyapkan. Rakyat Surabaya tidak dapat memenuhi tuntutan tersebut karena kematian Mallaby adalah akibat kecelakaan, tidak dapat dipastikan dibunuh oleh pemuda surabaya atau akibat tembakan dari tentaranya sendiri.

Para pemimpin Indonesia, pemimpin pemuda, kepala polisi, kepala pemerintahan kota Surabaya diharuskan menandatangani dokumen ultimatum yang disediakan sebagai tanda menyerah tanpa syarat. Kemudian bagi para pemuda yang bersenjata diharuskan menyerahkan senjatanya. Batas waktu yang ditentukan adalah 06.00 tanggal 10 November 1945. Apabila tidak terlaksana Inggris akan mengerahkan kekuatan darat, udara, dan laut. Kemudian melalui perintah Menteri Luar Negeri saat itu Ahmad Subardjo menyerahkan "kata putus" pada rakyat Surabaya. Selanjutnya secara resmi pada pukul 22.00 Gubernur Surabaya (Soeryo) melalui radio, menyatakan menolak ultimatum tersebut.

Komandan Kota yakni Soengkono pada tanggal 9 November pukul 17.00 mengundang semua unsur kekuatan rakyat, terdiri dari Komandan TKR, BPRI, PRI, Polisi Istimewa, Tentara Pelajar, PTKR, BBI, TKR Laut untuk berkumpul di Markas Pregolan 4. Soengkono menyatakan siapa yang ingin meninggalkan kota Surabaya dipersilahkan. Namun mereka bertekad untuk tetap mempertahankan kota Surabaya dan Soengkono kemudian dipilih sebagai Komandan Pertahanan.
Kota Surabaya dibagi menjadi 3 sektor pertahanan meliputi sektor Barat, sektor Tengah dan Sektor Timur. Sementara itu radio pemberontakan yang dipimpin oleh Bung Tomo membakar semangat juang rakyat. Siaran ini dipancarkan dari Jl. Mawar No.4. Berikut isi pidato Bung Tomo :

Bismillahirrohmanirrohim.....
Merdeka!!!11

Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.
Kita semuanya telah mengetahui.
Bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan,
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang.
Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka

Saudara-saudara…...
Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya.
Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,
Pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,
Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,
Pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing.
Dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung.
Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol.
Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.

Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara.
Dengan mendatangkan Presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini. Maka kita ini tunduk untuk memberhentikan pertempuran.
Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri.
Dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.

Saudara-saudara kita semuanya.
Kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu,
dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya.
Ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia.
Ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Dengarkanlah ini tentara Inggris.
Ini jawaban kita.
Ini jawaban rakyat Surabaya.
Ini jawaban pemuda Indonesia kepada kau sekalian.

Hai tentara Inggris!
Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu.
Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu.
Kau menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu
Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
Yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
Maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga

Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah keadaan genting!
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak,
Baru kalau kita ditembak,
Maka kita akan ganti menyerang mereka itu kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.

Dan untuk kita saudara-saudara…...
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!1

Dan kita yakin saudara-saudara…..
Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita,
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah saudara-saudara.
Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!!!!!


Kemudian setelah batas waktu ultimatum Serikat habis, keadaan semakin explosif. Kontak senjata pertama terjadi di Perak, yang berlangsung sampai jam 18.00. Inggris berhasil menguasai garis pertama dari pertahanan kita. Gerakan pasukan Inggris disertai pengeboman yang ditujukan kepada sasaran yang diperkirakan menjadi tempat pemusatan pemuda. 

Sejarah Pertempuran Surabaya 10 November 1945 Lengkap
Tank Inggris dalam Pertempuran Surabaya 10 November 1945

Akhir Pertempuran Surabaya 10 November 1945

Surabaya yang digempur oleh Inggris berhasil dipertahankan oleh pemuda selama tiga minggu lamanya. Walaupun Inggris menggunakan senjata modern, sektor demi sektor Kota Surabaya dipertahankan gigih. Pertempuran terakhir dalam pertempuran surabaya terjadi di Gunungsari pada 28 November 1945. Banyak korban berguguran, baik dipihak Indonesia dan Tentara Sekutu (Inggris).

Demikian pembahasan mengenai Sejarah Pertempuran Surabaya 10 November 1945 secara lengkap dan singkat. Semoga bermanfaat bagi pembaca. Jangan lupa baca artikel menarik lainnya di Sumber Sejarah. Kurang lebihnya penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sekian, terimakasih

Sumber :
  • Notosusanto, Nugroho, dkk. 1984. Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI. Jakarta: Balai Pustaka
  • Wikipedia

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Sejarah Pertempuran Surabaya 10 November 1945 Lengkap